Opini & Artikel

SAINS DAN IMAN: RELEVANSI PERISTIWA ISRA MIKRAJ DALAM BINGKAI KOSMOLOGI

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Kamis, 15 Januari 2026 | Dibaca 3 kali
Gambar SAINS DAN IMAN: RELEVANSI PERISTIWA ISRA MIKRAJ DALAM BINGKAI KOSMOLOGI

Selama berabad-abad, peristiwa Isra Mikraj sering kali dianggap sebagai (wilayah terlarang) bagi nalar. Bagaimana mungkin seorang manusia menempuh jarak ribuan kilometer dan melintasi lapisan langit menuju dimensi tertinggi hanya dalam satu malam? Namun, di era kosmologi modern saat ini, sains justru membuka celah pemahaman yang membuat mukjizat ini tidak lagi tampak mustahil, melainkan sebuah lompatan dimensi yang melampaui masanya. Dalam fisika klasik, waktu dianggap mutlak. Namun, Albert Einstein melalui Teori Relativitas Umum mengubah pandangan tersebut. Einstein membuktikan bahwa waktu adalah dimensi yang lentur, ia bisa melambat tergantung pada kecepatan dan gravitasi.

Peristiwa Isra Mikraj yang terjadi dalam "satu malam" memberikan pesan kosmologis bahwa Rasulullah SAW mungkin dibawa masuk ke dalam suatu ruang-waktu dimana hukum fisika bumi tidak lagi berlaku. Secara saintifik, jika sesuatu bergerak mendekati kecepatan cahaya, waktu bagi objek tersebut akan melambat secara drastis dibandingkan dengan mereka yang diam di bumi. Inilah yang menjelaskan mengapa perjalanan sejauh itu hanya memakan waktu sekejap dalam dimensi manusia. Dalam kajian kosmologi kontemporer, dikenal konsep Einstein-Rosen Bridge atau Wormhole, sebuah jalan pintas melalui ruang-waktu yang menghubungkan dua titik yang sangat jauh di alam semesta.

Isra Mikraj bisa dipahami sebagai perjalanan lintas dimensi. Dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha, Rasulullah tidak sekadar berpindah tempat secara linear (mendatar), tetapi melakukan lompatan vertikal menembus lapisan-lapisan langit yang dalam bahasa sains bisa disebut sebagai multiverse (multisemesta) atau dimensi ekstra. Adapun terkait Buraq, nama "Buraq" itu sendiri berasal dari akar kata Barq yang berarti kilat atau cahaya. Dalam bingkai sains, cahaya adalah batas kecepatan tertinggi di alam semesta. Namun, dalam fisika kuantum, terdapat fenomena quantum entanglement dimana informasi bisa berpindah secara instan melampaui kecepatan cahaya. Buraq bukan sekadar tunggalan fisik dalam imajinasi kuno, melainkan simbol energi luar biasa yang memungkinkan materi (tubuh Nabi) bertransformasi atau terlindungi saat menembus batas-batas atmosfer dan ruang angkasa yang hampa udara dan ekstrem.

Sains selalu menuntut bukti yang dapat diobservasi, sementara iman menerima apa yang melampaui observasi. Relevansi Isra Mikraj dalam kosmologi bukan untuk "melegalkan" agama melalui sains, karena agama berdiri di atas wahyu yang mutlak. Sebaliknya, sains hadir sebagai alat bagi manusia untuk sedikit demi sedikit menyingkap tabir keagungan Allah. Peristiwa ini mengajarkan bahwa alam semesta jauh lebih luas dan misterius daripada apa yang bisa ditangkap oleh teleskop Hubble atau James Webb. Ada realitas yang unseen (gaib) yang secara matematis mungkin ada, namun secara empiris belum terjangkau.

Isra Mikraj adalah titik temu dimana sains menemui batasnya dan iman memulai perjalanannya. Ia membuktikan bahwa antara ayat-ayat Allah dalam kitab suci (Qauliyah) dan ayat-ayat Allah di alam semesta (Kauniyah) tidak pernah ada kontradiksi. Kosmologi modern justru mempertegas bahwa keajaiban semalam itu bukanlah dongeng, melainkan demonstrasi dari Pemilik Hukum Alam tentang betapa kecilnya nalar manusia di hadapan arsitektur alam semesta yang maha luas.

 

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.