Opini & Artikel

REFLEKSI MENEPIKAN DIRI DAN MENEMUKAN ARTI

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Senin, 25 Mei 2026 | Dibaca 11 kali
Gambar REFLEKSI MENEPIKAN DIRI DAN MENEMUKAN ARTI

Kita hidup di sebuah era di mana kecepatan dipuja dan kesibukan dianggap sebagai lambang kasta sosial yang tinggi. Saban hari, kita dikepung oleh dering notifikasi, tuntutan profesional yang tak ada habisnya, serta arus informasi di media sosial yang memaksa kita untuk terus melihat keluar. Kita berlari begitu cepat, mengumpulkan pencapaian demi pencapaian, hingga tanpa sadar kita meninggalkan sesuatu yang paling berharga di belakang jiwa kita sendiri.

Pernahkah merasa tetap hampa di tengah keramaian? atau merasa lelah yang teramat sangat, padahal secara fisik tidak sedang melakukan kerja berat?, itulah alarm sunyi dari dalam diri. Jiwa yang lelah tidak butuh sekadar tidur delapan jam atau liburan akhir pekan yang sibuk difoto untuk konten. Ia butuh dijemput pulang. Ia butuh ruang untuk menepi.

Di tengah budaya masyarakat yang menuntut produktivitas tanpa batas, tindakan menepikan diri kerap kali disalahartikan. Menepi sering dituduh sebagai bentuk pelarian, keputusasaan, atau bahkan kemalasan. Padahal, ada perbedaan mendalam antara melarikan diri (escaping) dan mengambil jarak untuk merenung (solitude).

Melarikan diri adalah tindakan pengecut yang lahir dari ketakutan untuk menghadapi realitas. Sementara menepikan diri adalah tindakan sadar yang berani. Ia adalah momen di mana kita dengan sengaja menekan tombol jeda (pause), menarik diri dari hiruk-pikuk ekspektasi orang lain dan berani duduk berdua saja dengan diri sendiri di ruang keheningan.

Para tokoh besar dalam sejarah, para pemikir, filsuf, hingga para nabi selalu memiliki fase menepi dalam hidupnya. Nabi Muhammad SAW berkontemplasi di Gua Hira sebelum menerima risalah besar. Mengapa? Karena di dalam keheninganlah, suara-suara bising ego meredam dan suara kebenaran yang jernih baru bisa terdengar.

Salah satu polusi terbesar bagi jiwa modern adalah hilangnya sekat pembatas antara ruang privat kita dengan dunia luar. Melalui gawai di genggaman, kita mengizinkan miliaran isi kepala orang lain masuk dan mengacak-acak isi kepala kita sendiri. Kita mencemaskan apa yang dicapai orang lain, kita mengadopsi standar kebahagiaan orang lain dan kita perlahan-lahan kehilangan keaslian (authenticity) diri.

Menepikan diri dimulai dari keberanian untuk melakukan digital detox atau penyaringan konten secara ketat. Saat kita mematikan layar gawai dan menutup pintu dari opini dunia, kita sedang memberikan hak bagi pikiran kita untuk bernapas. Di saat itulah kita bisa bertanya pada diri sendiri dengan jujur: “Apakah yang aku kejar selama ini benar-benar hal yang kuinginkan, atau sekadar keinginan yang dipaksakan oleh lingkungan sosialku?”

Ketika kita berhasil menepi dan membiarkan diri kita berada dalam keheningan, awalnya mungkin akan terasa tidak nyaman. Pikiran-pikiran yang selama ini kita kubur dengan kesibukan seperti rasa bersalah, kegagalan masa lalu, atau ketakutan masa depan akan mendadak bermunculan. Namun, itulah proses penyembuhan yang sesungguhnya.

Dalam ruang refleksi, kita diajak untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang lebih luas dan transendental. Kita menyadari bahwa hidup yang bermakna tidak diukur dari seberapa riuh tepuk tangan orang lain, melainkan dari seberapa tulus kita melakukan kebaikan tanpa mengharap pamrih duniawi. Di dalam keheningan, ego kita melunak. Kita diingatkan kembali akan hakikat kita sebagai manusia yang lemah dan terbatas. Kita belajar memilah mana hal yang bisa kita usahakan (ikhtiar) dan mana hal yang harus kita pasrahkan kepada ketetapan Allah.

Menepikan diri bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan sebuah jalan pulang untuk mengumpulkan kembali serpihan diri yang terserak. Kita tidak bisa terus-menerus memberi jika cangkir jiwa kita sendiri kosong dan kering kerontang. Maka, jika hari ini dunia terasa terlalu bising dan jiwamu terasa teramat lelah, jangan takut untuk mengambil langkah mundur. Matikan gawai, carilah sudut yang tenang dan sapa kembali jiwa yang telah lama terabaikan. Menepilah sejenak, bukan untuk bersembunyi dari kehidupan, melainkan untuk menemukan kembali arti dan arah agar saat kembali melangkah nanti, tidak sekadar berjalan, tetapi benar-benar hidup.

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.