Puisi & Sastra

Narasi dalam Realitas

Oleh: Nur Azmi Salimah | Jumat, 24 April 2026 | Dibaca 9 kali
Gambar Narasi dalam Realitas

“Semua ini sudah dimulai, bahkan tanpa pengakuan,”

“Bagai realitas baru yang manis,”

“Yang selalu kuperhatikan, kupikirkan,”

“Mungkin semua ini tidak berbekas, tanpa ciri khas,”

“Atau justru sebaliknya?”

“Hidup dalam dua dunia, semuanya terasa kabur,”

“Keanehan yang indah, terlalu indah untuk diabaikan,”

“Laksana narasi yang tiba-tiba tertulis, namun enggan menamatkannya,”

“Narasi yang tidak tersentuh, rapuh, candu—”

“Entah ditulis siapa, tapi sudah diresmikan sebagai pola,”

“Atau mungkin hanya didiamkan begitu saja.”

 

 

“Yang manapun, aku akan tetap menjalaninya,”

“Aku tidak memilih untuk mematahkan semangatku,”

“Bukan ledakan, terlalu lembut untuk disebut ledakan,”

“Hanya ketentuan yang terasa nyaman,”

“Apakah kamu bisa memasuki duniaku?”

“Dari sekian keraguan, biarkan satu hal jadi pasti—”

“Perasaanku padamu bagaikan revolusi,”

Berkembang, besar, tak terelakkan,”

“Namun revolusi yang baik tidak melakukan kudeta,”

“Bahkan jika kamu tahta tanpa kesenjangan.”

 

Foto Nur Azmi Salimah
Nur Azmi Salimah

Penulis adalah siswa kelas XII-C pada MA Darul Ulum Palangka Raya.