Opini & Artikel

MERAWAT TENUN KEBANGSAAN, MENJADIKAN PANCASILA RUMAH BERSAMA

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Senin, 01 Juni 2026 | Dibaca 5 kali
Gambar MERAWAT TENUN KEBANGSAAN, MENJADIKAN PANCASILA RUMAH BERSAMA

Indonesia sering kali diibaratkan sebagai selembar kain tenun yang indah. Keindahannya tidak lahir dari satu warna atau satu jenis benang tunggal, melainkan dari anyaman jutaan helai benang yang berbeda suku, ras, agama, bahasa dan golongan yang saling mengikat dengan erat. Namun, di tahun 2026 ini, di tengah derasnya arus digitalisasi, pergeseran budaya dan sisa-sisa polarisasi sosial, kita harus jujur mengakui bahwa helai-helai benang tersebut kerap mengalami ketegangan.

Momentum Hari Lahir Pancasila bukan lagi sekadar ritual kalender atau upacara seremonial tahunan. Hari ini adalah alarm pengingat, sejauh mana kita telah merawat tenun tersebut agar tidak rapuh dan seberapa tulus kita menjadikan Pancasila sebagai rumah bersama bagi semua penghuninya, tanpa terkecuali.

Menjadikan Pancasila sebagai “rumah bersama” berarti melampaui slogan. Sebuah rumah yang ideal tidak akan membeda-bedakan hak penghuninya berdasarkan kamar mana yang mereka tempati. Di dalam rumah Pancasila, setiap warga Negara dari ujung Sabang hingga Merauke, dari mayoritas hingga kelompok yang paling minoritas, harus merasakan kehangatan yang sama yaitu rasa aman, keadilan dan pengakuan atas martabat kemanusiaannya.

Tantangan terbesar kita hari ini bukan lagi pemberontakan fisik, melainkan keretakan senyap di ruang digital. Ruang siber kita kerap dipenuhi oleh narasi yang saling mengotakkan, jempol yang mudah menghakimi dan algoritma yang justru memperlebar jarak perbedaan. Di sinilah relevansi Pancasila diuji. Membumikan Pancasila di era modern berarti mentransformasikan sila-silanya ke dalam etika bermedia sosial, cara kita berdialog, serta bagaimana kita menyaring informasi dengan mengedepankan kebijaksanaan dan tabayun (verifikasi).

Merawat tenun kebangsaan juga menuntut kita untuk menghidupkan kembali “jiwa” dari Pancasila, yaitu gotong royong dan ketulusan. Gotong royong dalam konteks hari ini bukan sekadar membersihkan lingkungan desa bersama-sama, melainkan kesadaran kolektif untuk saling merangkul, berbagi ruang dan menekan ego sektoral demi kemaslahatan publik. Kita perlu membangun jembatan emosional, bukan dinding pembatas.

Ketika kita sepakat menjadikan Pancasila sebagai fondasi dan atap rumah bersama, maka tidak ada lagi ruang untuk meragukan keberagaman. Perbedaan pendapat adalah hal yang niscaya, namun persatuan adalah harga mati. Kain tenun Indonesia terlalu berharga untuk dibiarkan robek oleh prasangka. Mari kita rawat kembali setiap helainya dengan benang-benang toleransi, keadilan dan cinta kasih. Menjaga Pancasila adalah menjaga eksistensi Indonesia itu sendiri. Sebab, hanya di dalam rumah bersama yang kokoh dan inklusif inilah, kita semua bisa terus bertumbuh, bermimpi dan melangkah maju sebagai satu bangsa yang bermartabat.

 

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.