Opini & Artikel

MENJADI “BIASA SAJA” DI DUNIA YANG MENUNTUT KESEMPURNAAN

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Rabu, 04 Pebruari 2026 | Dibaca 10 kali
Gambar MENJADI “BIASA SAJA” DI DUNIA YANG MENUNTUT KESEMPURNAAN

Kita hidup di era di mana (menjadi biasa saja) sering kali dianggap sebagai sebuah kegagalan. Algoritma media sosial memaksa kita untuk terus-menerus memamerkan pencapaian luar biasa, liburan mewah, hingga produktivitas yang tanpa celah. Narasi yang berkembang di masyarakat pun serupa, jika kamu tidak menjadi yang terbaik, kamu tertinggal. Namun pertanyaannya, sejauh mana pengejaran terhadap kesempurnaan ini justru merampas esensi kemanusiaan kita? Obsesi pada standar semu tuntutan untuk menjadi sempurna menciptakan beban mental yang luar biasa. Kita terjebak dalam perbandingan konstan dengan standar hidup orang lain yang sudah dikurasi sedemikian rupa. Akibatnya, banyak dari kita merasa cemas saat tidak memiliki karier yang melesat di usia muda atau gaya hidup yang estetik. Kita lupa bahwa di balik layar yang mengkilap, setiap orang punya kerapuhan yang sama.

Keberanian untuk memilih "biasa saja" bukan berarti menyerah atau malas. Sebaliknya, ini adalah sebuah bentuk perlawanan yang berani. Menjadi biasa saja berarti menyadari bahwa kita tidak harus menguasai segalanya atau disukai semua orang, menikmati momen-momen sederhana seperti makan malam tanpa gangguan ponsel atau hobi yang dilakukan tanpa perlu monetisasi dan melakukan sesuatu karena kita menyukainya, bukan karena ingin dipuji oleh orang lain. Kembali ke Esensi kehidupan sebenarnya tidak terletak pada seberapa tinggi puncak yang kita daki, melainkan pada bagaimana kita menikmati perjalanan di kaki gunung. Menjadi biasa saja memberikan kita ruang untuk bernapas, untuk gagal tanpa merasa hancur dan untuk menjadi manusia yang utuh dengan segala kekurangannya. Pada akhirnya, kesempurnaan adalah fatamorgana yang melelahkan. Mungkin, pencapaian tertinggi dalam hidup bukanlah menjadi yang paling hebat, melainkan menjadi pribadi yang paling damai dengan dirinya sendiri.

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.