MENGHADAPI RESESI HIDUP DENGAN INVESTASI SHOLAWAT
Kata (resesi) bukan lagi sekadar istilah usang di dalam buku teks ekonomi. Ia telah menjelma menjadi hantu yang nyata di ruang tamu kita. Kehilangan pekerjaan, harga barang pokok yang merangkak naik, hingga ketidakpastian masa depan yang kian mencekik adalah potret buram yang kita saksikan setiap hari. Namun, jauh sebelum dompet kita mengalami penyusutan, ada resesi lain yang diam-diam telah melumpuhkan kita, yaitu resesi harapan dan kebangkrutan jiwa.
Di tengah impitan hidup yang kian sempit, manusia modern dipaksa untuk terus berlari dalam roda hustle culture. Kita diajarkan bahwa setiap detik harus menghasilkan materi dan setiap keringat harus dikonversi menjadi angka di rekening bank. Kita sibuk berinvestasi pada saham, tanah, atau emas demi mengamankan masa depan. Tentu, itu tidak salah. Namun, mengapa ketika semua investasi lahiriah itu telah diupayakan, kecemasan di dalam dada justru semakin menjadi-jadi? Mengapa ketakutan akan hari esok tetap saja menjajah isi kepala kita?
Jawabannya sederhana, kita sering kali lupa mengamankan jalur langit. Di sinilah pentingnya sebuah bentuk investasi yang kerap diabaikan oleh nalar materialistis kita yaitu investasi sholawat. Memadukan kata “investasi” dengan “sholawat” mungkin terdengar ganjil bagi sebagian orang. Bagaimana mungkin sebuah amalan lisan bisa menjadi instrumen untuk menghadapi krisis ekonomi dan mental sekaligus?
Secara hakikat, sholawat adalah bentuk penyerahan ego yang paling radikal. Saat kita memperbanyak sholawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, kita sedang menggeser fokus hidup kita yang semula berpusat pada kepanikan diri sendiri (self-centered panic), menjadi berpusat pada pengagungan yang tulus. Sholawat adalah benteng psikologis. Ia bertindak sebagai mindfulness Islami yang paling efektif. Ketika lisan dan hati sibuk melantunkan pujian untuk kekasih Allah, ruang-ruang hampa di dalam jiwa yang tadinya dipenuhi oleh kabut overthinking perlahan-lahan akan tersapu bersih.
Lebih dari sekadar penenang jiwa, sholawat adalah magnitut keberkahan. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim disebutkan: bahwa siapa yang bersholawat kepada Nabi satu kali, maka Allah akan bersholawat (memberi rahmat) kepadanya sepuluh kali. Bayangkan jika rahmat Allah, Sang Pemilik alam semesta turun ke dalam hidup kita yang sedang megap-megap ini. Logika manusia mengatakan bahwa jalan keluar hanya ada jika kita memiliki modal besar. Namun, logika iman menegaskan bahwa ketika rahmat Allah telah turun, jalan keluar akan datang dari arah yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam kalkulator manusia.
Investasi sholawat mengajarkan kita arti penting dari sebuah konsep yang mulai langka yaitu keberkahan. Sesuatu yang sedikit namun berkah akan mencukupi, sedangkan sesuatu yang banyak tanpa berkah hanya akan melahirkan ketakutan-ketakutan baru. Menghadapi resesi dengan sholawat bukan berarti kita melarikan diri dari realitas lalu berpangku tangan di sudut sajadah. Justru, sholawat adalah bahan bakar spiritual agar kaki kita tetap kuat melangkah di bumi, mengupayakan rezeki dengan kepala tegak tanpa perlu kehilangan waras.
Dunia ini, dengan segala dinamika krisisnya, memang diciptakan sebagai tempat yang melelahkan. Ia tidak akan pernah ramah sepenuhnya kepada kita. Oleh karena itu, di tengah badai resesi hidup yang entah kapan akan mereda, mari kita mulai menata kembali portofolio investasi kita.
Sempatkanlah waktu di antara riuhnya jam kerja, di sela-sela helaan napas yang berat, untuk menabung bait-bait sholawat. Biarkan ia menjadi investasi jangka panjang yang tidak akan pernah mengalami inflasi, yang nilainya tidak akan pernah turun di mata Allah dan yang akan menjadi juru selamat kita, baik saat menghadapi sempitnya dunia maupun saat memasuki keabadian kelak. Sebab pada akhirnya, ketika semua pintu bumi tampak tertutup rapat, pintu langit selalu terbuka lebar bagi mereka yang mengetuknya dengan penuh cinta.