Opini & Artikel

MENANAM RINDU PADA KEABADIAN YANG INDAH

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Sabtu, 17 Januari 2026 | Dibaca 3 kali
Gambar MENANAM RINDU PADA KEABADIAN YANG INDAH

Dunia yang kita pijak hari ini sering kali terasa seperti perlombaan tanpa garis finis. Kita mengejar karier, mengumpulkan materi dan membangun citra diri seolah-olah kita akan menetap di sini selamanya. Padahal, jika kita jujur pada diri sendiri, ada sebuah ruang kosong di dalam hati yang tidak pernah benar-benar terisi oleh apa pun yang bersifat fisik. Ruang kosong itu adalah "kerinduan akan keabadian". Menanam rindu pada keabadian bukan berarti kita menyerah pada kehidupan dunia atau menjadi pesimis. Sebaliknya, rindu pada keabadian adalah cara kita menjaga kewarasan di tengah dunia yang serba fana dan sementara. Kita sering terjebak dalam kesedihan yang mendalam ketika kehilangan atau merasa kecewa, karena kita menganggap dunia adalah tujuan utama. Padahal, filosofi "mampir ngombe" atau sekadar singgah untuk minum, mengajarkan bahwa keindahan dunia hanyalah bayangan dari keindahan yang lebih besar di akhir nanti.

Saat kita mulai menanam rindu pada keabadian, kita tidak akan lagi terlalu hancur saat gagal dan tidak akan terlalu sombong saat berhasil. Kita menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di tangan kita hari ini hanyalah pinjaman yang akan dikembalikan di gerbang keabadian. Rindu pada keabadian mengubah cara kita memandang amal perbuatan. Kita tidak lagi berbuat baik hanya untuk mendapatkan pujian di media sosial atau pengakuan dari atasan. Kita melakukan kebaikan karena ingin "menanam" sesuatu yang buahnya bisa kita petik saat kita sampai di rumah sejati nanti. Setiap tindakan kasih sayang, setiap rupiah yang disedekahkan dan setiap kata-kata yang menenangkan jiwa orang lain adalah benih-benih rindu yang kita semai. Kita percaya bahwa tidak ada yang sia-sia, karena di keabadian yang indah, sekecil apa pun benih itu akan tumbuh menjadi keteduhan yang memayungi kita.

Bagi mereka yang tidak memiliki kerinduan pada keabadian, masa depan dan hari tua sering kali menjadi hantu yang menakutkan, takut kehilangan kecantikan, takut kehilangan kekuatan dan takut akan ketiadaan. Namun, bagi jiwa yang merindu, setiap detik yang berlalu justru membawanya semakin dekat dengan "janji" yang lebih indah. Keabadian yang indah bukanlah sebuah misteri yang gelap, melainkan tempat di mana tidak ada lagi perpisahan, tidak ada lagi air mata, dan tidak ada lagi rasa lelah. Dengan menanam rindu pada titik itu, kita belajar untuk mencintai hidup tanpa harus terikat mati-matian padanya.

Menanam rindu pada keabadian yang indah adalah tentang menemukan keseimbangan. Kita bekerja keras di dunia seolah-olah akan hidup selamanya dalam hal memberi manfaat, namun kita menjaga hati kita tetap tertuju pada akhirat seolah-olah kita akan pulang esok pagi. Ketika rindu itu telah tumbuh subur, maka dunia tidak lagi terasa seperti beban yang berat, melainkan sebuah taman bermain yang luas untuk mengumpulkan bekal perjalanan. Mari kita rawat rindu itu, agar saat waktu pulang tiba, kita tidak berangkat dengan ketakutan, melainkan dengan perasaan lega seorang musafir yang akhirnya melihat cahaya rumahnya dari kejauhan.

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.