Opini & Artikel

EKSISTENSI SEBELUM ESENSI: MENGUKIR MAKNA DI ATAS KANVAS KOSONG

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Selasa, 13 Januari 2026 | Dibaca 4 kali
Gambar EKSISTENSI SEBELUM ESENSI: MENGUKIR MAKNA DI ATAS KANVAS KOSONG

Banyak dari kita lahir dengan sebuah "buku panduan" tidak tertulis yang diberikan oleh lingkungan. Kita diajarkan bahwa kesuksesan adalah tangga linear sekolah, bekerja, menikah, lalu pensiun dengan tenang. Seolah-olah, tujuan hidup kita sudah ditentukan (esensi) bahkan sebelum kita benar-benar memahami siapa diri kita (eksistensi). Namun, filsafat eksistensialisme yang dipopulerkan oleh Jean-Paul Sartre menawarkan perspektif yang membebaskan sekaligus menakutkan, Eksistensi mendahului esensi. Secara sederhana, konsep ini berarti manusia lahir tanpa tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Berbeda dengan sebuah pisau yang diciptakan dengan tujuan untuk memotong, manusia hadir di dunia sebagai "kanvas kosong". Tidak ada takdir yang dipahat di batu, tidak ada skenario yang harus diikuti.

Kita ada terlebih dahulu, baru kemudian kita mendefinisikan siapa diri kita melalui tindakan, pilihan dan komitmen. Kehidupan bukanlah proses "menemukan" diri sendiri seolah-olah jati diri kita tersembunyi di suatu tempat, melainkan proses "menciptakan" diri sendiri. Mengapa konsep ini menakutkan? Karena jika tidak ada desain besar yang mengatur hidup kita, maka tanggung jawab sepenuhnya ada di tangan kita. Sartre menyebutnya sebagai kondisi di mana manusia "dikutuk untuk bebas". Ketika kita gagal, kita tidak bisa lagi menyalahkan "nasib" atau "takdir". Namun, di sinilah letak keindahannya. Jika hidup ini adalah kanvas kosong, maka setiap goresan kuas, baik itu warna yang cerah maupun gelap adalah murni otoritas kita. Kita bukan sekadar penonton dalam hidup sendiri, melainkan sutradara sekaligus pemeran utamanya.

Di era media sosial, kita sering merasa tertekan oleh esensi yang diciptakan orang lain. Kita merasa gagal jika tidak mencapai standar hidup "ideal" yang berseliweran di lini masa. Kita terjebak dalam esensi palsu yang didefinisikan oleh algoritma. Menghidupi prinsip "Eksistensi sebelum Esensi" berarti berani berkata "tidak" pada tuntutan luar yang tidak sesuai dengan nurani. Ini adalah panggilan untuk berhenti mencari validasi, menerima ketidakpastian dan bertanggung jawab pada pilihan. Pada akhirnya, hidup yang paling bermakna bukanlah hidup yang paling sukses menurut ukuran statistik, melainkan hidup yang paling otentik. Jangan takut pada kekosongan. Jangan gentar melihat kanvas yang masih putih bersih. Sebab, di atas kanvas kosong itulah kita memiliki kebebasan mutlak untuk melukis makna yang paling jujur, tanpa perlu izin dari dunia. Kita adalah apa yang kita lakukan hari ini, besok dan seterusnya.

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.