Opini & Artikel

BUKAN SEKADAR PERPISAHAN SEMENTARA: MEMBEDAH KECEMASAN DALAM LAGU “MUNGKINKAH”

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Senin, 16 Pebruari 2026 | Dibaca 5 kali
Gambar BUKAN SEKADAR PERPISAHAN SEMENTARA: MEMBEDAH KECEMASAN DALAM LAGU “MUNGKINKAH”

Bagi banyak orang, lagu "Mungkinkah" adalah lagu wajib karaoke atau sekadar pelengkap nostalgia era 90-an. Melodinya yang mendayu sering kali membuat kita terjebak dalam romantisme dangkal. Namun, jika kita mengupas lapis demi lapis liriknya, lagu ini sebenarnya bukan sekadar tentang dua orang yang terpisah jarak. Ia adalah sebuah manifesto kecemasan. Lirik ikonik "Kau di sana, aku di sini" sering kali dianggap sebagai deskripsi fisik hubungan jarak jauh (LDR). Namun, inti dari lagu ini terletak pada kata pertamanya: "Mungkinkah". Kata ini adalah sebuah pertanyaan retoris yang lahir dari rasa tidak aman (insecurity). Ada ketakutan laten bahwa sementara tubuh terpisah oleh jarak, hati pun perlahan akan terpisah oleh waktu. Kecemasan ini bukan datang dari rasa tidak percaya kepada pasangan, melainkan ketidakpercayaan pada kekuatan cinta itu sendiri dalam menghadapi gempuran realita.

Dalam liriknya, terdapat permohonan yang repetitif agar pasangan tetap setia dan menjaga hati. Secara psikologis, permintaan ini muncul ketika seseorang merasa kehilangan kendali. Saat kita tidak bisa melihat apa yang dilakukan orang yang kita cintai di sana, satu-satunya senjata yang tersisa adalah janji. Namun, janji dalam lagu "Mungkinkah" terasa rapuh. Ada nuansa keputusasaan di sana. Penulis lirik seolah menyadari bahwa dunia di luar sana penuh dengan godaan dan perubahan, dan ia hanya bisa bersandar pada sebuah "kemungkinan". Banyak hubungan berakhir bukan karena pertengkaran hebat, melainkan karena "pengikisan" perlahan yang disebabkan oleh ketidakhadiran fisik. Lagu ini menangkap momen krusial tersebut.

Ketakutan akan dilupakan, bahwa memori tentang "kita" akan memudar seiring munculnya rutinitas baru di tempat yang berbeda. Kebutuhan akan validasi, pertanyaan "mungkinkah" adalah bentuk pencarian validasi terus-menerus untuk menenangkan badai kecemasan di kepala. "Mungkinkah" adalah potret jujur tentang betapa ringkihnya manusia saat dihadapkan pada perpisahan. Lagu ini mengingatkan kita bahwa perpisahan fisik, sekecil apa pun itu, selalu membawa risiko transformasi emosional. Ia tidak hanya bercerita tentang rindu, tetapi tentang keberanian atau ketakutan dalam mempertaruhkan seluruh perasaan pada sebuah ketidakpastian. Pada akhirnya, lagu ini abadi karena setiap pendengarnya pernah berada di posisi itu, berdiri di ambang pintu keberangkatan, melambaikan tangan dan membatin dalam hati, "Apakah saat kita bertemu lagi, semua masih akan sama?"

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.